Madrasah dan Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
5/09/2015
Setiap tanggal 2 Mei, Bangsa Indonesia
memeringati hari Pendidikan Nasional dengan bertitik-tolak dari tahun 1921,
ketika Ki Hadjar Dewantoro mendirikan lembaga Taman Siswa.
Ki Hadjar pernah terjun di
Politik sampai berhasil menduduki pucuk Pimpinan Partai Nasional Indonesia
(PNI), dan mengantarkan dirinya menduduki Menteri Pengajaran pada Kabinet
Pertama Indonesia awal kemerdekaan.
Sejatinya jauh sebelum Ki Hadjar
Dewantoro terjun dibidang pendidikan dan mendirikan lembaga Taman Siswa, sudah
tersebar di nusantara lembaga-lembaga Pendidikan Islam.
Pada awal abad ke-20,
madrasah-madrasah dengan sistem berkelas (klasikal) mulai muncul di Indonesia.
Menurut penelitian Mahmud Yunus, pendidikan Islam pertama kali memiliki kelas
dan memakai bangku, meja, dan papan tulis adalahMadrasah Adabiyah (Adabiyah School) di Padang.
Madrasah Adabiyah adalah madrasah pertama di Miangkabau, bahkan di Indonesia,
didirikan oleh Syeikh Abdullah Ahmad pada tahun 1909. Madrasah ini hidup sampai
tahun 1914, kemudian diubah menjadi HIS
Adabiyah pada tahun
1915, yang merupakan HIS pertama di Miangkabau yang memasukkan pelajaran agama
Islam dalam pengajarannya. (baca Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia,
t.th.)
Muculnya sekolah-sekolah Islam
yang besepadu dengan sistem pendidikan modern juga tak terlepas dari banyaknya
alumni Universitas Al-Azhar Mesir yang telah menyelesaikan pendidikannya di
sana. Mereka adalah hasil dari sistem pendidikan yang telah direformasi oleh
Muhammad Abduh.
Setibanya di Indonesia, mereka
mengelolah dan mengajar di sekolah-sekolah agama serta memasukkan mata
pelajaran umum. Lembaga pendidikan yang demikian dinamai Madrasah Guru Islam atau Sekolah
Menengah Islam (SMI).
Di antara madrasah yang juga
termasuk awal adalah Al-Jami’ah
Islamiyah, di Sungayang Batusangkar, didirikan oleh Mahmud Yunus
pada 20 Maret 1931; Normal Islam (Kuliah Mu’allim Islamiah),
didirikan oleh Persatuan Guru-Guru Agama Islam (PGAI) di Padang pada tanggal 1
April 931 dan dipimpin oleh Mahmud Yunus, dengan demikian Mahmud Yunus memimpin
dua madrasah tingkat menengah dan tinggi di atas.
Ada pula Islamic College, didirikan oleh
Persatuan Muslim Indonesia (Permi) di Padang pada tanggal 1 Mei 1931, dipimpin
oleh Mr. Abdul Hakim. Kemudian digantikan oleh Mukhtar Yahya tahun 1935.
Selanjutnya berdirilah beberapa
madrasah yang memasukkan pengetahuan umum dalam rencana pendidikannya, di
antaranya, Training College didirikan oleh Nasruddin Thaha di Payakumbuh tahun
1934; Kulliah Muballghin/Muballighat,
didirikan oleh Muhammadiyah di Padang Panjang; Kulliah Muallimat Islamiah,
didirikan oleh Rgk. Rahmah Al-Yunusiah di Padang Pada tanggal 1 Februari 1937; Kulliah Dianah, didirikan oleh Syakh Ibrahim Musa di
Parabek pada tahun 1940 dan dipimpin oleh H. Bustami A. Gani; Kulliatul Ulum, didirikan oleh
Thawalib Padang Panjang dan dipimpin oleh Engku Mudo Abdul hakim; Kulliah Syariah, didirikan oleh
Tarbiyah Islamiah di Padang Panjang; Nasional
Islamic College, didirikan oleh alumni Islamic College di Padang; Modern Islamic College didirikan oleh St. Sulaiman dan
kawan-kawan di Bukitinggi.
Di Sulawesi Selatan, secara umum
para raja-raja memberi keleluasaan kepada para dai dan ulama sekalihus pendidik
untuk mengembangkan syiar agama Islam dan pendidikan.
Raja Gowa yang bergelar Imangimangi Daeng Matuju Karaeng Bontonompo
Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin (1936
– 1946) sudah menggagas pembukaan Madrasah
Islamiyah, bertempat di Jongaya, Gowa. Pengajaran agama Islam yang
diberikan berdasarkan Mazhab Syafi’i. Pimpinan Madrasah dipegang oleh Asy Syekh
Abdullah bin Shadaqah Dahlan, penganjur Mazhab Imam Syafi’i yang taat.
Madrasah ini dubuka, setelah
beberapa bulan Sultan Muhammad Tahir naik tahta di Gowa pada tahun 1936. Para
murid-murid madrasah ini berasal dari daerah Takalar, Jeneponto, dan Gowa
sendiri. Ketika pecah perang dunia ke II madrasah ini terpaksa ditutup, perang
memang selalu membawa petaka!
Sebelum itu, di daerah
Campalagian Mandar, menurut catatan, pendidikan dengan sistem tradisional telah
bermula dari tahun 1913 dibawah asuhan H. Maddeppungeng yang pernah berguru di
Makkah Saudi Arabia. Tempat ini menjadi pencetak kader-kader muballigh Islam di Sulawesi Selatan pada awal
abad ke XX. Tempat pendidikan ini tidak membatasi usia para pelajarnya. (Sarita
Pawiloy, Sejarah
Perjuangan Angkatan 45 di Sulawesi Selatan, 1986).
Di kerajaan Wajo ketika
diperintah oleh La Mannang Toapamadeng Puangna Raden Galla, Arung Matoa ke-40
yang berkuasa pada tahun 1821-1825, beliau melakukan berbagai usaha dalam
bidang pendidikan dan agama, seperti: memperluas dan menyempurnakan Masjid
Jami’ Tosora; mendatangkan ulama dari Madinah, (biasa disebut oleh orang Wajo
dengan Syeikh Madinah); mengeluarkan perintah pada raja-raja bawahannya agar
masjid yang ada dipelihara dan diperbaiki, dan yang belum memiliki masjid agar
segera membangun supaya rakyat dapat shalat secara berjamaah; pohon-pohon yang
dikeramatkan agar ditebang; perempuan yang keluar rumah agar menggunakan tutup
kepala dan kain
sarung (baca:
krudung); dan dari segi pelaksanaan hukum, pemerintah memotong tangan bagi
pencuri atas anjuran Syekh Madinah.
Ketika La Oddang Datu Larompong, Arung
Matoa Wajo ke-47, memerintah Wajo dari tahun 1926-1933, beliau memiliki
pengetahuan agama yang dalam, karena sejak kecil dididik oleh orangtuanya dalam
masalah keagamaan. Beliau disifatkan sering bergaul dengan para ulama seperti,
Haji Makkatu, seorang ulama yang sangat tegas dalam memberantas segala
kemungkaran dan merintis pengajian yang bersifat kalsikal di Tosora, juga
beliau dekat dengan Haji Muhammad As’ad, seorang Ulama Bugis yang lahir di
Makkah, ke Wajo pada tahun 1928, sangat berjasa dalam mengembangkan pendidikan
Islam di Sulawesi Selatan dengan mencetak para ulama berkaliber nasional dan
internasional.
Anre Gurutta (AG) Haji Muhammad
As’ad memulai pendidikan dengan memberikan pengajian rutin di rumahnya atau di
masjid dengan sistem halakah.
Materi utamanya dititik-beratkan pada akidah dan hukum syariah. Semakin lama
berjalan, pengajiannya semakin terkenal dan didatangi para santri yang dari
perbagi penjuru sehingga sistemhalakah (mangaji tudang) tidak cocok lagi.
Bulan Mei 1930 beliau membuka sistem pendidikan formal dengan bentuk madrasah
atau sekolah formal klasikal di samping Masjid Jami’ Sengkang yang diberi nama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI). Dua tahun kemudian dibangunlah
gedung sekolah secara permanen di samping masjid atas bantuan pemerintah
kerajaan Wajo bersama tokoh masyarakat. Beliau juga sebagai aktor dan pelopor
pemurnian ajaran Islam dan pembaruan sistem pendidikan Islam modern melaui Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) yang berpusat di Sengkang.
(Ilham Kadir, Jejak
Dakwah KH. Lanre Said, Ulama Pejuang dari DI/TII hingga Era Reformasi,
2010).
Para alummni MAI Sengkang,
bertebaran mendirikan lembaga pendidikan Islam bercorak pesantren dengan sistem
klasikal (modern) di berbagai daerah. Seperti AG. H. Abdurrahman Ambo Dalle
mendirikan MAI Mangkoso lalu bersama AG. H. Daud Ismail dan AG. H. M. Pabbajah
mendirikan Darul
Da’wah wal Irsyad (DDI).
AG. H. Daud Ismail juga mendirikan Pesantren Yasrib di Watangsoppeng. AG. H.
Junaid Sulaiman mendirikan Pesantren
Ma’had Hadits di
Watangpone, AG. H. Abd. Muin Yusuf mendirikan Pesantren
Al Urwatul Wutsqa di
Benteng Rappang, dengan sistem pendidikan dan pemahaman yang secara umum hampir
sama karena berafiliasai pada mazhab syafi’i sebagaimana pemahaman Gurutta H.
M. As’ad sendiri, kecuali KH. Lanre Said yang Mendirikan Pondok Pesantren Darul
Huffadh di Tuju-tuju, Bone, dan KH. Marzuki Hasan pendiri Pondok Pesantren Darul Istiqamah Maccopa-Maros dan Sinjai memiliki
sistem dan pemahaman yang berbeda karena tidak berpegang kepada salah satu
mazhab.
Adapun AG. H. Hamzah Manguluang
selain mendirikan pesantren Babul Khaer di Bulukumba, beliau juga menjadi
penulis produktif, di antara tulisannya yang sangat spektakuler adalah tafsir
al-Qur’an 30 Juz lengkap dengan menggunakan bahasa Bugis, dan inilah salah satu
tafsir berbahasa daerah terlengkap pertama kali di nusantara.
Demikian pula di Kerajaan Bone, berkat
bantuan Andi Mappanyukki alias Petta Mangkau Bone, pada tahun 1929 didirikan
sebuah madrasah yang diberi nama Madrasah
Amirah di Watampone.
Pimpinannya ialah Abdul Aziz Asy-Syimie berasal dari Mesir, tahun 1935 pimpinan
madrasah beralih ke tangan Ustaz Abdul Hamid al-Misyrie dan selanjutnya
digantikan oleh Ustadz Mahmud al-Jawad bekas Mufti Madinah al-Munawarah yang
sebelumnya pernah mengajar di Palopo. Pada perkembangan selanjutnya, tahun 1940
dibangunlah asrama para pelajar sebagai tempat tinggal dan gedung belajar yang
teratur. Para pengasuh madrasah ini adalah para Ulama dari Bone sendiri
yang pernah mukim dan belajar di Makkah dan Mesir.
Selanjutnya pada tahun 1932 atas
inisiatif Raja Bone Andi Mappanyukki diadakan “Pertemuan Ulama se-Celebes Selatan”
di Watampone, ibukota kerajaan Bone. Musyawarah tersebut dihadiri oleh 26 Ulama
terkemuka dari seluruh penjuru Sulawesi Selatan termasuk Gurutta H. M. As’ad,
di antara isi pertemuan tersebut adalah membicarakan cara-cara pengelolaan
pendidikan Islam yang sesuai dengan tuntutan zaman bagi generasi pelanjut.
Bukti-bukti ini menunjukkan, bahwa
pendidikan Islam sudah lahir sebelum keberadaan Taman Siswa yang didirikan Ki
Hadjar Dewantoro. Bahkan berdirinya lembaga-lembaga pendidikan Islam tak
terkait dan terpengaruh adanya Taman Siswa. Wallahu
a’lam
___
Oleh: Ilham Kadir, kandidat Doktor Pascasarjana UIKA Bogor
Dikutip dari: hidayatullah.com,
edisi 6 Mei 2015, diakses 6 Mei 2015 pukul 13.40 WIB
Jika kesulitan untuk mendownload, silahkan baca petunjuk disini: Cara Mendownload